Connect with us

Artikel

Tips Beli Rumah Tanpa Riba

PropertiSyariah.id – Membeli rumah dengan metode KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) adalah opsi paling mudah memiliki rumah dengan biaya yang ringan. Meski begitu sistem KPR dari bank konvensional dianggap bukan sebagai solusi ideal bagi seorang muslim.

Alasannya karena pinjaman yang berbunga identik dengan riba yang diharamkan dalam agama Islam. Untuk itu, banyak orang yang beralih menggunakan pembiayaan rumah melalui perbankan berbasis syariah.

Yang membedakan KPR konvensional dengan syariah adalah KPR konvensional meminjamkan uang kepada konsumen, yang akhirnya uang tersebut dialihkan kepada pengembang (developer).

Sementara dengan sistem syariah, bank membeli rumah dari pengembang dan menjualnya kembali dengan harga yang dinaikkan atau menyewa-jualkan kepada konsumen.

Jika cicilan pada KPR konvensional berubah-ubah sesuai suku bunga, maka cicilan syariah bersifat tetap karena total cicilan sudah ditetapkan lebih dulu.

Ada tiga metode pembelian yang dianut dalam KPR Syariah. Meski sifatnya sama-sama mencicil namun konsekuensinya berbeda.

Murabahah

Ini adalah transaksi jual beli dengan mekanisme pembayaran yang dapat ditangguhkan, baik itu dicicil secara berkala atau ditanggungkan untuk dilunaskan pada akhir periode. Namun umumnya bank menggunakan pembayaran cicilan untuk menjaga kesehatan kondisi keuangannya.

Yang berbeda dari murabahah adalah penjual harus memberitahu pembeli mengenai harga pokok objek penjualannya. Sehingga kedua belah pihak dapat melakukan tawar menawar harga. Dalam hal ini bank bisa melakukan negosiasi harga mengenai rumah yang akan dijual atau dibeli.

Istishna

Merupakan transaksi jual beli dengan pesanan, di mana pihak pembeli memesan suatu barang untuk dibuatkan baginya, dan pembayarannya dapat dilakukan lunas atau bertahap dalam jangka waktu yang disepakati.

Model pembelian ini sangat pas untuk perumahan yang dibeli secara indent. Namun bedanya Nasabah pembeli mempunyai hak untuk memperoleh jaminan dari penjual (bank) atas jumlah yang telah dibayarkan dan penyerahan barang pesanan sesuai dengan spesifikasi dan tepat waktu.

IMBT (Ijarah Muntanhia bittamlik) atau sewa beli (leasing syariah)

IMBT adalah sewa yang disertai jual beli yang menyebabkan perpindahan kepemilikan barang dari penjual yang menyewakan kepada pembeli yang menyewa, dengan ketentuan penyewa membayar angsuran tertentu dalam waktu tertentu.

Disini apabila penyewa telah menyempurnakan pembayaran sewanya dalam waktu yang telah disepakati maka kepemilikan akan pindah menjadi milik penyewa. Namun jika penyewa tidak dapat melunasi sesuai kesepakatan maka transaksi batal dan barang kembali menjadi milik penyewa.

Dengan demikian transaksi ini merupakan rekayasa tepat dari para penjual untuk menjaga kepemilikan barang dagangannya sampai waktu pembayaran sempurna seluruhnya.

Agar lebih jelasnya, simak perbedaan tabel pembiayaan KPR Syariah di bawah ini.

Kelebihan KPR syariah

Seperti yang sudah disebutkan di atas, KPR syariah menetapkan jumlah cicilan yang tetap (fixed) setiap bulan dan tidak tergantung pada suku bunga Bank Indonesia.

Akan tetapi, harus diperhatikan karena ada beberapa bank yang menawarkan produk KPR syariah dengan sistem bunga campuran (fixed pada beberapa tahun pertama, kemudian floating hingga selesai jangka waktu cicilan).

Dengan jumlah cicilan yang terprediksi tersebut, Anda bisa melakukan perencanaan keuangan keluarga secara pasti. Selain itu, ketika ingin melunasi pembayaran lebih awal, debitur tidak akan dikenakan penalti atau denda seperti pada KPR konvensional.

Untuk saat ini, uang muka KPR syariah lebih ringan dibanding KPR konvensional, yakni bisa hingga 10%, sedangkan pada KPR konvensional minimal 15%. Terakhir, proses pengajuan KPR relatif lebih cepat dengan persyaratan yang mudah sesuai dengan prinsip syariah.

Kekurangan KPR syariah

Dengan jumlah cicilan yang tetap setiap bulannya, maka debitur tidak akan bisa menikmati kesempatan membayar cicilan rendah ketika suku bunga turun.

Jika kita amati, perekonomian Indonesia pernah mengalami penurunan bunga yang sangat signifikan pada tahun 2011-2013. Apabila kondisi itu terulang, maka Anda harus rela membayar cicilan dengan jumlah yang sama.

Sama halnya dengan KPR konvensional, KPR syariah juga akan menerapkan sistem denda jika debitur terlambat membayar.

Selain itu, tenor pinjaman maksimal yang ditawarkan KPR syariah hanya sampai 15 tahun saja. Berbeda dengan KPR konvensional yang bahkan menyediakan masa tenor hingga 25 tahun.

Kesimpulannya, untung rugi yang dimiliki oleh KPR syariah sebenarnya bisa disesuaikan dengan profil risiko nasabah. Jika nasabah menginginkan kepastian, tentu KPR syariah adalah pilihan yang tepat.

Sementara untuk mereka yang ingin meminjam dalam jangka waktu pendek, KPR konvensional bisa menjadi pertimbangan.

Advertisement properti syariah
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + 10 =

Trending