Properti Syariah, termasuk jenis properti lainnya, merupakan instrumen investasi yang masih dan akan terus menjanjikan. Nilainya tidak akan pernah turun drastis, meski kondisi perekonomian tengah memburuk.

Jika berinvestasi di sektor pasar modal seperti saham, reksadana, atau emas sekalipun, kondisi ekonomi secara global menjadi penyebab naik turunnya nilai investasi. Hal ini tentu saja tidak dapat dikendalikan karena sifatnya yang mengikuti mekanisme pasar.

Situasi ini tentu berbeda dengan properti, di mana harga akan cenderung selalu naik dan investorlah yang dapat menentukan keuntungan investasinya sendiri.

Baca Juga :

Bekasi Timur Sasaran Empuk Investor Properti

Caranya, dengan memilih lokasi yang tepat dan melakukan renovasi untuk meningkatkan harga jual properti.

Salah satu lokasi tepat untuk berinvestasi properti di sektor rumah tapak (landed house) di Kota Bekasi adalah Jati Asih. Kawasan ini cukup ternama dengan segudang fasilitas publik lengkap yang bertujuan menunjang kebutuhan dan gaya hidup warga.

“Jalur tol yang menghubungkan Bekasi-Jakarta sudah ada sejak lama, lengkap dengan pintu keluarnya yang langsung mengarah ke area Jati Asih. Dari sisi entertainment, terdapat Grand Galaxy Park Mall meski lokasinya ada di perbatasan Jati Asih,” pungkas Arief Komarudin Marketing Perumahan Syariah Bukit Cipendawa Hasanah

Kenaikan Rata-Rata 33%

Menyoroti kondisi serapan pasar properti di Jati Asih, pria yang akrab disapa Arief mengaku konsumen masih lebih membidik rumah tapak. Padahal, saat ini sudah ada satu apartemen yang bakal hadir di kawasan ini.

Adalah Bukit Cipendawa Hasanah yang merupakan salah satu Project Perumahan Syariah di Bekasi dengan berbagai keunggulan.

Ini merupakan hunian 2 lantai yang didesain seperti ruang kerja maupun ruang rapat. Tentunya fasilitas ini bisa dipergunakan bersama oleh seluruh penghuni.

Bukit Cipendawa Hasanah sengaja dihadirkan mengingat segmen pasar yang dibidik apartemen adalah pekerja profesional. Tak ayal fasilits ini relevan dengan penghuni yang berprofesi sebagai freelancer, bisnis rintisan (start up), serta menggeluti bisnis lain yang tidak memerlukan ruang kantor besar dan permanen.

“Meski fitur Bukit Cipendawa Hasanah sudah dikemas begitu menarik, namun kecenderungan konsumen masih terpaku pada rumah tapak. Apalagi jika mencermati kenaikan harga per tahunnya yang bisa mencapai Rp 150 juta,” Arief menuturkan.

“Itu artinya, bila rata-rata kenaikan harga rumah per tahun sekitar 33%, maka hanya dibutuhkan waktu tiga tahun untuk investor meraih balik modal,” imbuhnya.

Rekomendasi Rumah di Jati Asih

Berdasarkan listing perumahan baru yang ada di Properti Syariah, ada dua klaster di Jati Asih yang masih dikategorikan sebagai perumahan kelas menengah. Mereka adalah Bukit Cipendawa Hasanah dan .

Hadir dengan kluster bergaya Eropa klasik, seperti namanya yang sekilas mengingatkan siapa pun pada era Victorian, Grand Victoria sesuai untuk konsumen yang ingin tinggal di hunian bernuansa baru. Bukan lagi gaya minimalis, modern, maupun tropis.

Perumahan ini menawarkan 300 unit hunian satu dan dua lantai, dengan variasi harga berbeda. Tipe terkecil, yakni tipe 48/79 dijual dengan harga Rp 608 juta. Sedangkan yang termahal Rp 1,4 miliar diperuntukkan tipe 150/162.

Lantas, bagaimana jika bujet kurang dari itu? Beruntung Costaville Residence memasarkan rumah dengan harga mulai dari Rp 500 juta. Nominal ini berlaku untuk rumah tipe LB 40 m2 dan LT 67 m2.

Meski harga jualnya sedikit lebih rendah, jangan salah, rupanya pengembang juga tak mau kalah saing dalam hal konsep yang diusung perumahan.

Bila Grand Victoria bergaya Eropa klasik, maka Costaville menawarkan gaya Mediterania di seluruh tipe unitnya.

Indikasi gaya ini tertuang lewat penggunaan small porch atau teras kecil, aksen batu-batu alam, hingga penggunaan lengkungan (arc) di jendela dan pintu.

0 Komentar